Kamis, 15 Oktober 2015

Saya Memilih Melawan Lupa!



Teringat pertama kali menginjakkan kaki di sebuah lapangan luas dengan palang tinggi bertuliskan Sekolah Dasar  di sebelah kiri lapangan tersebut. Terasa lapangan tersebut begitu luas hingga puluhan anak bisa berlarian kesana kemari tanpa berbenturan. Perlahan saya lepaskan genggaman tangan Nenek yang sedari tadi berusaha memastikan agar saya merasa nyaman dan baik-baik saja. Rasanya tak sabar berlarian di lapangan tersebut. Tak bisa rasanya bersabar beberap menit lagi untuk segera masuk kelas dan belajar. Ya! Hari itu adalah hari pertama saya menjadi siswa SD. Saya sangat bersemangat.

Duduk di kursi paling depan. Mengangkat tangan setiap ada pertanyaan. Dengan mata berbinar tak henti memandangi guru yang perlahan-lahan mengukir sebuah huruf pada papan tulis kayu tersebut. Saya mulai belajar menuliskan kata. Menjumlah. Saya mulai memberanikan diri berdiri di depan kelas. Rasa senang yang membuncah mengisi relung hati saya ketika kertas ulangan dibagikan. Hampir setiap ulangan dan ujian saya mendapat nilai terbaik. Ya, selama menjadi siswa Sekolah Dasar saya selalu menjadi juara kelas. Tidak jarang menjadi juara umum di sekolah tersebut. Rasanya membanggakan ketika nama saya dipanggil dan berdiri paling depan. Selangkah lebih maju dari barisan teman-teman lain yang juga menjadi juara di kelas mereka masing-masing.

Dengan langkah kecil yang bergulir dengan cepat, saya menghampiri nenek dan menunjukkan angka 1 yang tertera di kolom peringkat. Tentu saja saya berharap mendapat hadiah untuk itu. Ya! Sebungkus sate khas Padang adalah hadiah terbaik menurut saya kala itu. Gembira tak terkira begitu melihat nenek masuk rumah sepulang dari pasar sambil membawa kantong kresek berisi sebungkus sate.

Sejak umur dua tahun, Neneklah yang mengasuh dan membesarkan saya. Mendidik dan mengajarkan saya segala sesuatunya dengan penuh cinta. Nenek mengajarkan saya dengan penuh kasih sayang. Nenek tahu betul bagaimana caranya membuat saya senang belajar. Sehingga belajar sepulang sekolah adalah hal yang saya tunggu. Begitupun membaca buku pelajaran sesudah sholat magrib.
Tak pernah bisa lupa, rutinitas sepulang sekolah setiap harinya. Rasa lelah yang menggelayuti tubuh saya setelah berjalan beberapa kilo dari sekolah hingga rumah perlahan hilang begitu melihat Nenek berdiri di depan pintu dan menyambut saya.
“Tadi dapat nilai berapa Ayu?” tanyanya dengan lembut.
“Ayu dapat 10 Mak. Cukup kan Mak untuk membeli sate?”, tanyaku polos. Saya memanggil Nenek dengan sebutan Amak.  (Panggilan untuk Ibu dalam bahasa Minang).
Dengan sigap beliau akan mengambilkan baju ganti dan menyiapkan makan siang untukku. Hampir setiap harinya beliau menyuapiku. Karena aku selalu makan sambil belajar. Sehingga begitu selesai makan siang, akupun selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Masa kecilku bersama Nenek yang sangat berkesan bagiku. Beliau membiasakanku belajar dengan cara yang menyenangkan. Beliau selalu tahu bagaimana cara mengapresiasi pencapaianku.

Teman-teman!
Hampir sebagian besar waktu dalam hidup kita, dihabiskan untuk sekolah. Dimulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah.  Kita belajar tak henti untuk mendapat selembar ijazah. Dengan ijazah itu kita bekerja. Mencari penghidupan. Mendapat pemasukan. Berkarya.
Banyak yang bekerja pada perusahaan yang sesuai dengan bidang keahlian yang mereka geluti ketika kuliah. Tidak sedikit bekerja pada instansi yang bidangnya berbeda nyata dengan bidang keahlian mereka. Banyak juga yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Tidak jarang juga memilih jalan menjadi pengusaha. Semua pilihan tersebut baik. Karena pada dasarnya kita memilih pekerjaan yang menurut kita baik dan cocok untuk kita.

Tapi, satu hal yang terkadang kita lupa dan juga menjadi hal yang saya sesali adalah membiarkan ilmu saya lenyap begitu saja. Saya membiarkan ilmu saya perlahan hilang. Saya membiarkan pengetahuan yang telah saya peroleh sebelumnya berlalu begitu saja. Bukan sesuatu yang disengaja. Terkadang semua itu diluar kuasa kita. Karena kita manusia biasa dengan kemampuan mengingat yang juga terbatas.

Untuk yang masih duduk di bangku SMP, apakah kalian masih ingat perbedaan stalaktit dan stalaknit? Atau apakah kalian masih ingat cirri-ciri batuan sedimen? Semua itu kalian pelajari di sekolah dasar.
Bagi yang masih duduk di bangku SMA, apakah kalian masih ingat letak geografis dan batas-batas Indonesia yang dipelajari ketika SMP?
Bagi yang sedang kuliah, masih ingatkah rumus luas lingkaran atau tata cara melaksanakan sholat jenazah yang pasti pernah diajarkan di SMA?
Untuk yang sudah bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, coba ingat hal yang telah kalian pelajari di bangku kuliah. Apakah masih ingat?

Ada banyak ilmu dan pengetahuan yang telah kita pelajari menjadi hal yang tak lagi dapat kita ingat di masa sekarang. Bukan hanya saya. Kalian pun pasti mengalami hal yang sama.
Ada kesedihan yang saya rasa begitu menyadari bahwa saya tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana terkait biologi. Seperti, bagaimana proses terbentuknya mikrospora? Atau enzim yang terlibat pada proses glikolisis. Jelas! Sebelumnya saya pernah mempelajari hal itu. Jelas, saya pernah hafal dan memahami betul mengenai hal-hal tersebut. Namun seiring berjalannya waktu. Semakin banyak hal yang saya ingat. Pengetahuan dan informasi lama yang pernah saya dengar perlahan hilang.

Merasa bodoh. Merasa dungu. Terkadang itu yang saya rasakan ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan mengenai apa yang telah pernah saya ketahui sebelumnya. Tapi lagi-lagi saya sadar bahwa saya manusia biasa. Tidak mampu saya mengingat semua hal.

Saya memilih untuk tidak berdiam diri. Saya memilih melawan lupa. Saya memilih menjemput mereka lagi. Hal-hal yang pernah saya ketahui dan saya lupakan. Saya mulai mengajar lagi. Tidak hanya mengajar mahasiswa. Saya juga mengajar sisw SMP dan SMA. Dengan mengajar, saya mengingat lagi semuanya. Say abaca lagi hal-hal yang sudah perlahan memudar dalam ingatan saya. Mulai lagi membahas pertanyaan-pertanyaan terkait bidang saya.

Saya mengisi hati-hari saya dengan mengajar. Menghabiskan akhir pekan saya dengan berdiri dihadapan belasan siswa siswi yang butuh dibantu agar lebih paham dengan pelajaran mereka. Mereka belajar, sayapun juga belajar. Saya merasa lelah. Penat. Tentu saja. Karena saya bukan robot. Tapi setiap malamnya saya menghampiri tempat tidur dan merebahkan tubuh dengan perasaan lega, karena satu lagi pengetahuan yang telah saya lupakan kembali menjadi hal yang saya ingat.
Saya memilih melawan lupa.



Banda Aceh, 15 Oktober 2015






***Terima kasih Amak. Semoga Amak mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT Allah. Delapan belas tahun sudah sejak Amak pergi. Ayu sangat sayang Amak. Terima kasih untuk cinta yang begitu tulus. Terima kasih sudah merawat dan mendidik Ayu dari umur 2 tahun. Tidak ada satu jasa Amak yang sudah Ayu balas. Ayu tidak diberi kesempatan untuk membahagiakan Amak. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan, kasih sayang dan ketulusan Amak dengan pahala yang berlipat ganda. Amiin.  

Rabu, 14 Oktober 2015

Selamat Bermimpi Kawan!




Saya selalu merasa antusias memulai perkuliahan di semester baru. Seperti mendapat celah besar untuk melakukan hal yang saya suka. Ya! Saat itulah kesempatan untuk mengajak mahasiswa saya untuk BERMIMPI..
Saya mengajak mereka bermain imajinasi. Menghayal. Membayangkan hal-hal yang indah-indah untuk hidup mereka.
Saya meminta mereka menyediakan selembar kertas kosong dan sebuah alat tulis, dan mulai menuliskan impian mereka pada secarik kertas. Dreamlist mereka!

Tentu saja berkali-kali saya ingatkan mereka untuk memulai membayangkan impian tersebut dengan mengingat Allah dan meluruskan niat. Karena sepemahaman saya, setiap kita memperbaiki niat untuk melakukan sesuatu, Allah perbaiki keadaan kita.

Ada begitu banyak ekspresi yang saya tangkap ketika mereka mulai menuliskan impian mereka.
Ada yang terlihat bingung. Menatap langit-langit dengan tatapan nanar. Menggoyang-goyangkan pulpennya seolah itu akan memberinya ide untuk ditulis.
Ada juga yang termenung menatap pojokan dengan tatapan sendu.  
Tidak sedikit dari mereka yang tersenyum kecil seraya menatap lembaran kertas yang baru saja mereka tulis. Seolah-olah ada hal menggelikan yang telah mereka bayangkan untuk masa depan mereka.
Bahkan ada yang hanya mampu tertunduk lesu tanpa menuliskan apapun bahkan setelah sekian menit berlalu.
Tentu saja ada yang mantap menggoreskan kata demi kata dan merangkai impiannya pada kertas kosong tersebut.

Sembari menunggu mereka menyelesaikan tulisannya, saya terus memberikan contoh yang bisa mereka tulis. Dari hal yang paling sederhana, seperti mulai membiasakan sholat dhuha dan puasa Senin-Kamis atau terbiasa bersedekan seribu rupiah perhari. Pendek kata, saya juga mengajak mereka untuk membentuk kebiasaan baru yang ingin mereka lakukan untuk hidup mereka kedepannya.

Saat itulah terlihat siapa yang sudah merencanakan masa depannya dan siapa yang belum. Siapa yang berani bermimpi dan siapa yang masih takut untuk bermimpi.
Namun pada akhirnya, begitu saya menyatakan waktu untuk menulis telah habis. Di kertas mereka terdapat coretan-coretan mimpi yang ingin mereka wujudkan.

Saya sadar, mereka masih rapuh. Masih gamang untuk bermimpi. Dipenuhi ketakutan akan banyak hal. Dipenuhi ketidapercayaan akan kemampuan sendiri. Penuh dengan keraguan akan jalan yang akan mereka tempuh.

Saya baca satu persatu impian mereka sembari menyelipkan “aamiin” untuk setiap impian yang berhasil mereka rangkai.
Tak lupa saya ceritakan apa yang pernah saya alami. Apa yang pernah saya tulis tahun 2009 bersama teman-teman tercinta ketika masih menempuh studi sarjana.
Kala itu, Saya dan dua orang teman saling berbalas surat seolah-olah kami sudah berada di tahun 2013. Kami saling menceritakan bagaimana kehidupan kami dan apa saja hal yang telah kami capai.  Maha Kuasa Allah SWT, hampir semua yang saya tulis disurat itu terwujud.
Seperti:
S1 selama 3,5 tahun.
Wisuda S1 bulan Maret 2011.
Setelah S1 lanjut S2
S2 di ITB dan selesai 1,5 tahun.
Selesai S2 langsung menjadi dosen biologi.

Ya! Hal tersebut pernah saya tulis ketika saya masih S1. Hal-hal tersebut yang saya bayangkan untuk hidup saya ke depannya. Saya takjub akan kebesaran Allah. Memang benar yang saya yakini selama ini. Apa yang kita pikirkan adalah do’a.

Hingga saat inipun, saya terbiasa untuk menuliskan hal-hal yang ingin saya lakukan, capai dan wujudkan. Dimulai dari hal remeh sekalipun. Ada yang saya tempel di dinding kamar. Ada yang saya selipkan di Dream Book saya. Bahkan ada yang saya catat pada aplikasi note di handphone. Saya memang serempong itu dalam urusan bermimpi. Hihiihi….
Entahlah. Bagi saya, mimpi-mimpi tersebut mentenagai hari-hari saya. Menjadi alarm kita jenuh mulai menghampiri. Menjadi cheerleader ketika saya ingin menyerah.

Mengawal tahun baru inipun, saya kembali menghayal dan membayangkan impian saya. Sembari mulai menuliskannya satu persatu. Banyak. Detail.

Diantaranya, yang selalu menghantui saya adalah hasrat yang begitu besar untuk segera melanjutkan studi doktoral di Australi. Ada kerinduan yang begitu besar untuk kuliah lagi. Bergelut dengan laporan, deadline, jurnal dan tugas kuliah. Bekerja di laboratorium dan menemukan sesuatu. Tidak ingin di tempat lain. Di Australi. Keinginan itu sama besarnya ketika semasa S1 saya ingin sekali melanjutkan studi S2 di ITB.
Ya! Tentu tidak akan puas sampai disitu. Saya ingin ada kata PROF. mengawali nama saya nantinya. Dan besar keyakinan saya bahwa Allah SWT akan memudahkan semuanya. Akan Allah hadiahkan jalan untuk mewujudkannya. Insya Allah.

Kawan-kawan!
Mari bermimpi besar.
Mari bermimpi yang banyak.
Bermimpi itu gratis.

Saya selalu percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kita punya Allah SWT.
Ada Dia yang berkuasa atas segalanya. Yang dengan mudahnya membuat sesuatu terjadi.
Dan saya juga selalu percaya bahwa:
Jika Allah SWT mengizinkan kita untuk memimpikan sesuatu, itu karena Dia sudah mempersiapkan jalan untuk kita agar dapat mewujudkannya.

Dari Abu Hurairah ra. Berkata, bersabda Rasulullah saw. : Allah berfirman : “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari. (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Selamat Bermimpi Kawan!
Selamat Mewujudkan Impian!
Selamat Tahun Baru!
Semoga Tahun Ini Kita Menjadi Pribadi yang Lebih Baik dari Sebelumnya.

Aamiin.

#ceritadosen
#dreamchaser


Kamis, 27 Agustus 2015

Puasa Senin - Kamis

Dahsyatnya Puasa Senin Kamis.

Siapa sih yang tidak ingin awet muda, bebas penyakit, sekaligus selamat dunia akhirat ? Kalau kita ingin mendapatkan semua itu, cobalah berpuasa Senin-Kamis secara teratur.

Kebanyakan dari kita tentunya pernah mendengar puasa Senin Kamis sebagai puasa sunnah di dalam Islam. Namun, berapa yang benar-benar berusaha merutinkan puasa tersebut ?

Kalau hari itu kebetulan ada acara pengajian dan makan-makan, bukannya lebih enak makan-makan ketimbang puasa sunnah ? Kalau pagi itu kebetulan tidak sempat sahur, bukannya lebih nyaman absen puasa dulu ? Bagaimanapun, puasa Senin Kamis itu hanyalah 'sunnah' bukan ?

Tak banyak dari kita yang tahu benar hikmah puasa Senin Kamis dari segi spiritual, kesehatan dan keutamaannya di hadapan Allah. Karena itu, dalam rubrik tadzkirah IMSIS kali ini, ada baiknya kita mengupas hikmah puasa Senin Kamis supaya kita lebih semangat menjalaninya.

Alasan utama mengapa puasa Senin Kamis disunahkan dalam Islam ialah karena Rasulullah sering berpuasa di kedua hari tersebut.

Tapi, apa keutamaan Senin dan Kamis ?

Sehubungan dengan hal ini ada 2 hadis dari Rasulullah yg berkenaan dengan pemilihan hari Senin dan Kamis.

Yang pertama, dalam Hadist Riwayat Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah mengatakan bahwa semua amal dibentangkan di hari Senin dan Kamis. Karena itu, sebagai orang beriman, sungguhlah baik bila pada saat malaikat melaporkan amalan kita itu kita tengah berpuasa.

Yang kedua, hari Senin Kamis adalah hari istimewa karena pada hari itulah Rasulullah dilahirkan, menjadi rasul dan mendapat wahyu (HR Muslim).

Jadi terlihat disini bahwa hari Senin dan Kamis adalah hari istimewa dari sisi religius.

Dari sisi logika, bisa dilihat bahwa hari Senin dan Kamis membagi satu 'minggu' menjadi dua bagian yang hampir sama rata. Jadi kentara sekali bahwa puasa Senin Kamis mempunyai fungsi maintenance atau pemeliharaan. Analoginya mungkin sama dengan pembagian waktu minum obat kala kita sakit. Tentu kita ingat, kala kita sakit, kita sering disuruh minum obat 2x sehari, yaitu 1x di pagi hari dan 1x di malam hari. Kalau dilihat, waktu2 dimana kita disuruh minum obat 2x tersebut membagi kurang lebih hari itu menjadi 3 bagian yang sama. Hal ini berlaku juga dengan Senin dan Kamis yang membagi satu minggu menjadi dua bagian.

Dengan berpuasa di hari Senin dan Kamis, secara tidak langsung kita melakukan maintenance untuk diri kita secara rutin baik dari segi spiritual maupun jasmani.

Lalu, apakah keutamaan puasa yang berkelanjutan seperti puasa Senin Kamis ini ?

Keutamaan yang pertama ialah karena puasa Senin Kamis melatih kita secara teratur untuk menghindarkan diri dari pekerjaan dosa. Kalau ada latihan efektif untuk 'anger management' atau latihan kesabaran, maka itulah puasa. Karena itu, cocoklah jika dikatakan bahwa puasa adalah zakat jiwa, dimana pada saat puasa, kita membuang perangai buruk. Sehingga sesudah puasa, emosi dan spiritual kita menjadi lebih bersih.

''Segala sesuatu itu ada zakatnya,sedang zakat jiwa itu adalah berpuasa. Dan puasa itu separo kesabaran''.(HR. Ibnu Majah).

Dengan menghilangnya perangai buruk kita, minimal seminggu dua kali, maka bisa juga dikatakan bahwa ''Puasa adalah benteng yg membentengi seseorang dari api neraka yg membara''.{HR.Ahmad dan Baihaqi}.

Keutamaan yang kedua ialah karena puasa Senin Kamis bisa meningkatkan amalan kita. Biasanya, seseorang yang kekenyangan dan keenakan cenderung malas beribadah. Puasa menjadikan kita lebih produktif dalam beribadah karena selain kita tidak lagi dalam posisi keenakan, orang yang berpuasa juga cenderung ingin beribadah ekstra. Disamping itu, puasa bisa melembutkan hati. Ini karena dengan puasa, kita cenderung lebih berempati dengan orang-orang yang lebih tidak beruntung dibanding kita. Karena itu, puasa bisa menjadikan kita lebih dekat dengan Allah dan lebih bertakwa.

Tidaklah salah kalau dalam Quran disebutkan bahwa puasa diperintahkan pada kita dan orang2 sebelum kita supaya kita menjadi orang yang bertakwa (Al Baqarah 183).


Selain dari keuntungan dari segi emosional spiritual seperti yang dijelaskan diatas, puasa juga memiliki keutamaan dari segi kesehatan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa saat ini sudah ada banyak riset yang menyimpulkan bahwa puasa yang teratur itu baik untuk kesehatan.

Manfaat kesehatan dari puasa yang paling populer adalah puasa bisa dibilang sebagai cara ampuh untuk membatasi kalori yang masuk ke tubuh kita. Dalam Islam dan bidang kedokteran, dianjurkan untuk tidak makan berlebihan, karena makanan yang berlebih dan tidak sehat bisa menimbulkan penyakit. Lihat saja masyarakat di negara makmur yang mana makanan berlimpah. Selain tingkat obesitas tinggi, masyarakat negara-negara tersebut banyak yang mengidap diabetes dan jantung yang notabene sering dijuluki sebagai penyakit orang kaya. Dengan puasa Senin Kamis, paling tidak, dalam dua kali seminggu, kita membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita.

Manfaat lain dari puasa ditinjau dari segi kesehatan yang juga banyak dipopulerkan adalah fungsi pembersihan dan penyembuhan. Dengan istirahatnya sistem
pencernaan kita selama puasa, maka memungkinkan sistem2 lain di tubuh kita untuk bekerja dengan lebih baik, misalnya sistem imunitas. Inilah sebabnya mengapa orang yang sakit atau binatang yang terluka suka menolak makan. Andaikata kita tidak sedang sakit pun, polisi imunitas bekerja keras saat kita puasa. Jika polisi-polisi ini mendeteksi hal-hal yang kira-kira nanti bisa membuat kita sakit atau hal-hal abnormal, seperti tumbuhnya kista atau tumor, maka pada hari kita puasa, mereka bisa memberantasnya.

Sistem detoksifikasi tubuh juga bekerja lebih lancar jika kita tidak menerima asupan lagi. Disini, mungkin kita bisa membayangkan sistem pembersihan tubuh kita seperti pegawai yang kewalahan mengerjakan tugasnya kalau tugas datang bertubi2. Akibatnya, fungsi pembersihan tubuh tidak terkerjakan dengan maksimal dan sangat mungkin luput mengeliminasi beberapa zat-zat yang kurang baik untuk tubuh kita. Dengan berhentinya asupan, maka tugas dari sistem pembersihan tubuh kita menjadi lebih manageable sehingga kinerjanya menjadi lebih maksimal.

Sistem peremajaan juga bekerja dengan maksimal saat kita puasa karena Allah mendesain tubuh kita untuk mengeluarkan hormon yang erat kaitannya dengan anti-aging kala kita puasa. Karena itu tidaklah mengherankan jika pada suatu eksperimen ditemukan bahwa cacing yang berpuasa bisa hidup 19 generasi lebih lama dibanding cacing yang tidak berpuasa. Kalau ada obat anti aging yang ampuh, itulah puasa. Bisa jadi puasa Senin Kamis secara teratur nantinya menjadikan kita awet muda dan bebas penyakit di hari tua.

Lalu bagaimana dengan orang yang sering mengeluhkan tidak bisa bekerja karena kelaparan dan lemas pada saat puasa seperti yg terlihat jelas di Indonesia dimana kinerja orang menjadi turun saat puasa? Jika hal ini terjadi, bisa jadi kelaparan itu terjadi karena kita tidak bekerja dengan baik atau kurang konsentrasi. Yang jelas, puasa tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap otak dan daya pikir kita. Malahan, sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa puasa malah meningkatkan daya pikir kita.

Masih banyak lagi manfaat kesehatan dari puasa,misalnya puasa bisa menghindari atau mengurangi diabetes dan penyakit vascular seperti jantung. Yang jelas, kala Sang Pencipta kita mewajibkan kita puasa minimum setahun sekali selama Ramadhan , Dia tahu bahwa puasa itu baik bagi kita. Bayangkan dahsyatnya puasa kala kita bisa merutinkannya seminggu dua kali seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Walaupun begitu, perlu diingat dan digarisbawahi bahwa semua amal tergantung niat. Jika niat puasa kita hanyalah dari segi kesehatan, maka itulah yang kita dapat. Namun kala niat puasa kita adalah dalam rangka meningkatkan kualitas spiritualitas kita dan mendekatkan diri pada Allah maka tidak hanya kita mendapat fisik yang prima, namun juga ridho Allah dan keselamatan dunia akhirat. Sebagai muslim, ridha Allah terletak di atas segala-galanya. Allah sangat menyukai orang yang berpuasa karena Allah, sehingga Allah menjanjikan gerbang khusus di surga bagi yang gemar berpuasa, yaitu Ar-Rayyan (H.R Muslim).

Maka dari itu, marilah kita galakkan dan rutinkan puasa-puasa sunnah seperti puasa Senin Kamis dalam rangka meraih ridha Allah dan salah satu cara untuk meraih jannahNya. Insya Allah dengan puasa yang rutin, kita tidak hanya mendapat balasan di akhirat nanti, tetapi kita juga mendapat keuntungan di dunia berupa kesehatan yang prima dan daya pikir yang jernih.

http://sister.imsa.us/index.php/en/artikel/dakwah/58/1063-dahsyatnya-puasa-senin-kamis