Kamis, 27 Agustus 2015

Coretan

"Akan selalu ada, komentar pro dan kontra untuk setiap langkah kecil maupun besar yang kau tempuh".

Sedikit kesal bila menyadari yang diatas mutlak benar. Apapun! apapun yang kau lakukan, terlepas dari benar atau salahnya, akan selalu praduga-praduga dan celetukan pedas yang mengiringi. 

Kau benar-benar dituntut untuk bersikap cerdas, bertindak cerdas dan berbicara cerdas. Karena kenyataannya kau tak bisa berharap atau menunggu orang-orang untuk bertindak cerdas atau berpikir cerdas untuk apa yang mereka lihat darimu. Kau tidak bisa dan tak akan pernah bisa berharap orang-orang 'excuse' dengan apa yang kau alami.

Orang-orang diluar dirimu, akan secara otomatis memposisikan diri mereka sebagai hakim dan manusia suci tak punya beban hidup, yang harus mengurusi apapun yang kau lakukan. Akan menilai ini salah! itu benar! ini boleh! itu tak boleh! Tanpa sedikit mencoba memposisikan diri mereka di posisimu, tanpa sedikit menggunakan otak dan berpikir bahwa "selalu ada alasan kenapa seseorang melakukan hal yang sedang mereka lakukan."

Kenyataanya: memang mengomentari apa yang dilakukan orang lain jauh lebih mudah dibanding bercermin dan memperbaiki diri.

Orang-orang di luar dirimu, akan selalu dan selalu memiliki komentar dan pandangan sendiri tentangmu. Terkadang dikesampingkan rasa iba, empati dan peduli. 

Itu manusiawi! sangat manusiawi! Boleh dibilang terlalu manusiawi.

Kenapa tidak mencoba sedikit berjalan ke arah yang berlawanan, dan menempatkan diri di posisi orang yang sedang dikomentari. 
Kenapa dia melakukan itu?
Apa yang menyebabkan dia begitu?
Sejak kapan dia begitu?

Sekedar saran: berhenti terlalu memusingkan dan memikirkan apapun yang dibicarakan orang tentangmu. 

Boleh mendengar, karena memang manusia diberi dua telinga agar mendengar lebih banyak. Ambil yang baik dan kubur yang tak pantas didengar.
Jangan tunduk pada penilaian orang-orang di sekelilingmu.
Memang begitu lah manusia, terlalu sibuk menunjuk sampai lupa bahwa satu tunjuk yang diarahkan padamu jauh lebih sedikit dibanding jari lainnya yang menunjuk dirinya sendiri.
Terlalu sering menunjuk dan membuka aib dan kesalahan orang lain terkadang membuat manusia terhanyut dan lupa berkaca. Terkadang wajah sudah terlalu buram, hati sudah terlalu berkabut dan pikiran sudah terlalu gelap.


Jika saja kau seseorang yang sedang melangkah, dan kau tahu persis bahwa yang kau lakukan tak membuat tidurmu tak nyenyak karena merasa bersalah, maka lakukan saja.
Sesungguhnya hatimu bisa menjawab pertanyaanmu!
Jika kau menemui keraguan pada apa yang kau pilih dan hadapi, tanyakan hatimu! Bertanyalah pada hatimu!
Bila setelah kau melakukan sesuatu, hatimu menjadi gelisah dan tak tenang, perbaikilah, minta maaflah, karena hatimu sedang bicara bahwa yang telah kau lakukan adalah sesuatu yang salah.


Tak perlu marah bila orang berkomentar!
Mereka punya hak!
Pastikan saja kau mencerdasi tindakan dan perkataan mereka.
Kau manusia biasa. Salah? Khilaf? itu kan selalu ada padamu,  pada mereka, pada kita.
Jangan jatuh dan tertidur, tapi bangkit, perbaiki, berjalan atau bahkan berlari lah ke tempat indah yang ingin engkau tuju. 

Kesalahan itu bukan sesuatu yang harus kau kutuk atau kau ratapi seumur hidupmu. Kesalahann yang telah kau lakukan itu adalah sesuatu yang harus kau syukuri. Kau akan belajar lebih banyak dari kesalahanmu.

Petik hikmahnya! Berpikirlah dan perbaiki.
Kau tidak akan tahu mana yang benar sebelum kau melakukan kesalahan.
Toh! Kau tidak pernah berniat melakukan kesalahan bukan?

Perbaiki niat mu jika sebelumnya masih ada keegoisan dalam alasan kau bergerak maju. Karena hidup mu hanya akan sekali, jadikan niat itu untuk kebahagiaan orang-orang yang kau kasihi. Ikhlas dan tulus! karena semua itu tak akan sia-sia.


Bila kau merasa tersakiti akan sesuatu atau banyak hal yang orang lakukan padamu, maka jangan lakukan hal yang sama pada orang lain.
Maafkan orang-orang yang membuat senyummu lenyap, karena sebenarnya mereka juga sedang belajar sesuatu dari apa yang mereka lakukan.

Pastikan bahwa hati penuh maafmu itu kau hiasi dengan kasih sayang pada orang-orang yang menyayangimu: keluargamu, sahabatmu, pilihan hatimu, dan guru-gurumu.


Mari introspeksi diri. Biarkan saja mereka yang selalu merasa benar untuk apa yang mereka lakukan. Jangan benci pada hati mereka yang penuh angkuh dan dendam. Abaikan mereka yang merasa perlu mengutak-atik hidupmu. Teruslah melangkah maju. Perbaiki dirimu. Tetaplah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. 
Allah Maha Mengetahu! 
Allah Maha Mendengar!
Allah Maha Penyayang!









Perpustakaan Pusat ITB Lantai 4
16/09/13
20:13
Ditemani seseorang yang tertidur pulas di kursi.


Renungan Sebelum Tidur

Mataku perih seharian berkutat dengan jurnal yang harus segera kuselesaikan membacanya sebelum konsultasi berikutnya dengan pembimbing tesisku, belum lagi jurnal untuk mata kuliah biologi sel lanjut yang akan dipresentasikan di kelas. 

Dalam rehat sejenak untuk mengistirahatkan mataku, aku teringat pembicaraan beberapa jam lalu dengan seseorang yang sampai sekarang masih membuatku gemetar bila bertemu dengannya. Tidak ada yang spesial dari apa yang  kami bahas, hanya saja menjadi sentilan untukku. Sedikit menyentuh rasa ikhlasku pada hal yang sudah aku relakan sebelumnya*setidaknya aku sudah berusaha melepaskan.

Kata-katanya yang sok bijak itu seperti mendikte ku untuk harus lebih berhati-hati bertindak, walau semua orang yang mengetahui apa yang kulakukan untuk hal yang kuceritakan padanya, sudah benar. 
Sedikit tersayat ketika menyadari dia melakukan pembelaan pada orang yang kuceritakan padanya, terlepas dari apakah dia mengetahui atau tidak identitas dari orang siapa orang yang kuceritakan. 

Aku kemudian beralih pada jejaring sosial yang sudah jarang kubuka itu. Aku lagi-lagi melihat hal yang mampu menggelitik kesabaranku. Kutatapi wajah itu dengan cermat. Aku mengenalnya dengan sangat baik beberapa waktu lalu. Dan bila yang terjadi sekarang adalah dia seperti dikutuk untuk menyembah sesuatu, maka aku bisa memaklumi itu. Karena toh, beberapa saat lalu aku adalah bagian dari yang disembahnya.

Hanya sedikit lucu bila mengingat semua hal-hal itu, serta sangat takjub ketika menyadari bagaimana hebatnya ALLAH membolak-balikkan hati manusia. Ketika Allah berkata kun fayakun. Siapa sangka semua yang kau milikki sekarang akan hilang dan lepas dari tanganmu? Siapa sangka apa yang tak kau miliki sebelumnya telah menjadi milikmu sepenuhnya?


Bandung, 23/10/12



Oktober

Aku memberi nama untuk Oktober dengan nama yang sedikit berbeda dari bulan-bulan lain yang telah kulalui. Bila sebelumnya aku memberi nama "January the Beginning," "February Penuh Cinta", "Maret Sejuta Kebahagiaan", maka sekarang aku memberi nama bulan ini dengan "Oktober Penuh Rezeki, Berkah dan Cinta". Dan semoga doa yang kuselipkan di balik nama itu dikabulkan oleh Sang Penjawab Doa.

Rasanya baru kemarin,, namun saat mataku mengarah pada kalender kecil berwana pink yang kutempel di dinding, baru kusadari bahwa sudah hampir setahun sejak terakhir bertemu dan sudah 9 bulan sejak semuanya berakhir. 

Dua hari lalu aku seperti sedang dirasuki oleh bisikan setan yang berhasil membujukku untuk menekan tombol OK di hape-ku. Dan ya,, aku menghubunginya. Seingatku itu jam 2 pagi. Tak banyak. Hanya beberapa detik setelah mendengar suaranya, lalu kumatikan, karena sepertinya dia sedang ‘gila’ karena menjawab telponku dengan kata ‘sayang’.

Aku menelponnya karena ada sesuatu yang kurasa sedang terjadi. Perasaanku seperti tak tenang. Rasanya ingin meminta ketenangan padaNya, namun aku sedang dalam keadaan tidak suci. Malam semakin dingin dengan beberapa rintik hujan yang terdengar menapaki atap. Aku tak bisa tidur. Padahal saat itu aku sedang asyik mentranlsate sebuah jurnal ke dalam bahasa inggris. Namun tiba-tiba aku ingat bahwa beberapa hari lagi tanggal 21. Otakku sedikit bermain nakal dengan menjemput beberapa kilasan kenangan setahun yang lalu. Ketika aku meminta salah seorang sahabatku untuk memilihkan sepatu kerja yang akan kuhadiahkan sebagai kado ulang tahun. Sepatu kerja ? ya,, karena orang yang akan kuhadiahi itu akan segera berangkat ke kota impiannya untuk mencari pekerjaan, hmm,, untuk mencari yang dicarinya. 

Dayat menemaniku ke Mall Basko, dan tepat jam 10 pagi kami sudah sampai disana. Tidak aneh bila kami menjadi pengunjung pertama, karena masih terlalu pagi untuk sampai di mall dan membeli sesuatu. Setelah melewati barisan karyawan mall yang berjejer layaknya fans yang sedang menanti artis pujaan mereka melintasi karpet merah, kami sampai di pojokan yang memajang berbagai macam sepatu kerja dengan harga yang bervariasi. Beberapa kali Dayat menyodorkan model sepatu yang menurutnya bagus, namun aku belum merasakan ‘klik’ dihatiku saat melihat sepatu-sepatu yang dipilihkannya. Aku terus mengitari rak pajangan  yang belasan jumlahnya itu, hingga pilihanku jatuh pada sepasang sepatu berwarna coklat yang membuatku tak ingin melihat sepatu lain. “Ini dia! Batinku.” 

Aku membungkus sepatu itu dengan kertas kado bermotif hati yang kuhiasi dengan kartu ucapan kecil. Aku berdoa semoga Tuhanku memberi kebahagiaan pada dia yang memakainya. 

Namun, sepatu yang kupilih dengan doa, dan kuhadiahkan dengan doa itu ternyata berlabuh di dalam api. Api yang disulut oleh kebencian dan kekecewaan yang entah berakar sekuat apa. Api yang seolah membakar harapanku untuk kebahagiaannya.  

**

Dalam ketenanganku menjalani kehidupan kampus yang sangat  menyenangkan, Tuhan mengirimkan sedikit godaan kecil untukku. Entahlah apa maksud semuanya. Disaat aku merasa sudah tak membutuhkan, sudah kokoh dengan pendirianku, maka didatangkan ujian kecil yang menggoda imanku. Hmm...

Sempat merasa bersyukur dihadiahkan ujian seperti itu, karena secara tidak langsung itu jawaban dari pertanyaanku selama ini, bahwa aku sudah mampu berdiri lagi. 

Bukan aku yang meminta. Tapi semua terjadi secara tiba-tiba ketika untuk pertama kalinya pada Juli itu, Tuhan memeperlihatkannya padaku. 

Aku berusaha menghindar. Berharap tak pernah lekat. Berharap tak pernah dekat. Berpura-pura angkuh didepannya. Meski ternyata itulah yang menjadi perekat bagi kami. 

“Karena sesungguhnya, ALLAH mengirimkan seseorang dalam kehidupan kita dengan alasan KHUSUS. “ (dan baru tadi pagi aku menyadari maksud dari rencana ALLAH itu...)

Aku berlalu dengan apa yang kurasa bahkan jauh sebelum dia menyadarinya.  Hingga aku yang setiap hari berdoa agar dijauhkan dari hal yang dapat menjauhkan upaya pendekatan diriku padaNya, seperti disadarkan oleh Tuhanku, bahwa bukan itu maksud kami dipertemukan. Bukan untuk hal yang seharusnya tak kurasa, tapi untuk hal lain: BELAJAR!

Sedikit bingung bagaimana cara memperbaiki kesalahan yang telah kulakukan pada komitmenku dan pada janji terhadap Tuhanku. Terlebih, aku tak tahu mesti bersikap seperti apa untuk membuat ini mudah baginya dan bagiku.

Teman-temanku hanya memberikan satu saran yang sepertinya cukup masuk akal buatku. BICARA!
Menurutku memang harus! Dia harus tahu bahwa apa yang kurasa sudah cukup menggangguku. Dan tak ada yang bisa menyalahkanku, karena seperti yang kukatakan pada yang lainnya. Semuanya terjadi diluar kuasaku. Aku tak meminta merasakannya, bukan aku yang membuat ini terjadi. Dan bila ada yang menduga semua kurasa setelah mengenalnya, kalian keliru. Semua terjadi bahkan sebelum dia mengenalku.
Dan lagi-lagi,, hal ini tentang Oktober. Aku benar-benar berharap Oktober membantuku memperbaiki semuanya.

Aku mengumpulkan keberanian untuk meminta sedikit saja dari pengertiannya. Meminta sedikt twaktu untuk diriku sendiri. Agar aku bisa memperbaiki semuanya. Agar aku bisa membunuh hal tak penting yang seharusnya tak tumbuh. Namun yang kudapat adalah sebuah kata ‘egois’ yang aku sendiri tak mengerti apa itu pantas untuk kondisi saat itu. 

Bagiku cukup masuk akal ketika alasan penolakan untuk permintaanku adalah agar semuanya tak mengganggu ketenangannya dalam belajar. Oke! Meski itu terdengar terlalu “bocah”.  

Permintaanku ditolak? Oke!! Mari berproses seperti biasa. Menjalani kehidupan biasa, seperti permintaan awal yang masih kuingat dengan jelas. Namun, dalam kebersamaan dan kedekatan itu, ada banyak tusuk gigi yang menancap di hati dan otakku. 

Entah bagaimana cara dia menilaiku. Entah bagaimana cara dia menakarku. 

Mungkin aku tak menunjukkan raut muka yang terlihat kesal atau marah saat dia (berkali-kali) mengeluarkan kata-kata yang sampai hari ini masih terngiang-ngiang di telingaku. Namun yang tak akan dia tahu, semua itu mengubah segalanya. 

Ada beberapa tetes air mata untuk kata-kata itu. Ada banyak sayatan untuk kalimat-kalimat itu. Ada sedikit  kecewa untuk celaan-celaan itu.  
Dan semuanya berujung pada hari ini. Semua itu, yang setiap hari mengitari otakku, perlahan kumaafkan. Bahkan, semua nya berujung pada sebuah rasa terima kasih yang tulus dariku....

Aku harus berpikir lebih bijak. Jika tidak karena dia. Jika tidak karena semua kata-kata itu. Jika tidak karena kedekatan yang menghasilkan banyak tusuk gigi itu. Aku tak akan mengerti. Aku tak akan tahu. Aku tak akan paham. Aku tak akan memahami apa maksud Tuhan mempertemukan kami.
Karena memang, terkadang ALLAH membuat kita belajar dengan cara yang tak kita suka. Terkadang harus dengan membuat kita luka terlebih dahulu.
#Terima kasih teman,,, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik ke depannya..Amiin,,

Masih ada beberapa hari lagi dari OKTOBER PENUH REZEKI, BERKAH DAN CINTA.
Semoga selalu dipermudah jalan yang kutempuh dan dilancarkan semua urusanku.
Semoga Engkau tak lelah memberikan rezeki, berkah dan cinta kepadaku YA RABB. 

Terima kasih untuk hidup yang indah ini.
Untuk semua hal baik yang Engkau hadiahkan.
Untuk semua cinta yang Engkau berikan melalui keluarga, sahabat dan orang-orang disekitarku. 

Izinkan aku untuk terus mempperbaiki diriku. Amin



Bandung, 15/10/2012

Selamat Menikah Sahabatku


Hari Ini 6 Juni 2012, Seorang Sahabatku sedang dalam prosesi menuju gerbang baru kehidupannya. Ada perasaan yang tak menentu yang sedang berkecamuk dihatiku hari ini. Entah lah apa dia mengetahui apa yang kurasakan sekarang **mungkin tidak.

Ada rasa sedih yang luar biasa yang menggelantungi hatiku karena tak bisa mendampinginya saat ini.. Walau dengan atau tanpa kehadirankupun acara pernikahannya akan tetap berlangsung, tapi aku sangat ingin melihat calon suaminya mengucapkan kalimat-kalimat sakral itu, “Saya terima nikahnya, kawinnya ..................... dengan mahar tersebut tunai.”
Aku ingin sekali mendampinginya, menyaksikan saat-saat membahagiakan itu. Melihat senyum bahagianya. Aku menyayangimu sahabatku.

            Ada rasa takut yang tak terkira. Aku tak menginginkan kau mengalami hal yang pernah kubaca di buku-buku tentang pernikahan. Karena aku sadar, ALLAH telah menuliskan takdir kita masing-masing. Telah tertulis apa yang akan kita hadapi. Tapi Ya Rabb, Tolong bahagiakan aku dan orang-orang yang kusayang. Jauhkan kami dari cobaan yang berat. Amiin

            Ada rasa bahagia yang tak terukur. Setelah semua cerita panjang kita. Setelah semua air mata itu. Setelah semua rengekan yang ku dengar. Setelah semua keluhan yang menghiasi hari-hari kita.
Selamat menikah sayangku.
Akhirnya kau sampai di titik ini.

Jadilah istri yang berbakti pada suamimu.
Yang menenangkan hati suamimu.
Yang menjadi penghibur suamimu di kala lelah.
Menjadi tempat berbagi suka dan duka sepanjang hidupnya.
Menjadi tawa di kala sedihnya
Menjadi penyemangat di kala lemahnya
Menjadi perhiasan hidupnya

Persiapakan lah dirimu menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu kelak.
Jadilah ibu yang penuh kasih, yang meletakkan kebahagiaan anak-anakmu diatas segalanya.

Bangunlah rumah tangga yang penuh berkah.
Aku  menyayangimu. Sangat

Aku menemukan pesan-pesan ini, semoga bermanfaat untukmu *dan untukku nanti ^_^

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam “istanamu “……..

Disayang, dimanja dan dilayani suami……

Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu……..

Jika itu engkau lakukan ” istanamu ” akan menjadi neraka bagimu


Jika engkau menjadi istri………
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu……
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah……
siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami…..
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya… .
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa mendampingi suami
menjalankan misi.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu….
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu….
Jika itu kau lakukan…..
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi
pendurhaka…………….jangan……….

Jika engkau menjadi ibu….

Jadilah engkau ibu yang bijak, ibu yang teduh….

Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu….

Jadikanlah mereka mujahid………

Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah…..

Jangan biarkan mereka bermanja-manja… ..

Jangan biarkan mereka bermalas-malas……….

Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih/ah…

Abdullah Ibnu Ja’far Radhiyallâhu ‘anhumaa  menasihati putrinya di saat pernikahannya, “Hati-hatilah dirimu dari cemburu yang tidak pada tempatnya karena itu adalah kunci perceraian. Hati-hati dari banyak mencela karena hal itu akan mewariskan kebencian. Selalulah ananda  memakai celak karena celak adalah perhiasan yang paling bagus. Dan wewangian yang terbaik adalah air.”

05/06/12

Aku, Beruang Madu, Nyai Muram, Kambing Bodoh dan Nona Gembul

Ironi memang bila kita meminta pendapat pada seseorang yang bahkan tak bisa mempertahankan hubungan yang dijalaninya.

Entahlah, aku seperti sudah terdoktrin dengan kata-kata ustad yang sering kudengar sejak  masih memakai seragam merah putih, “Allah memberi kita dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendegar dari pada berbicara”.
Ya,, karena itulah aku selalu menjadi tong sampah masalah teman-temanku. Dan jujur, aku menikmatinya. Mencoba mengambil sesuatu dari apa yang kudengar. Setidaknya, melatih kesabaran menghadapi keluhan-keluhan dan rengekan mereka yang butuh didengarkan sekaligus dihibur atau malah diberi saran. Tak munafik, akupun terkadang berada di posisi mereka. Mengeluh dan menangis untuk hal-hal remeh yang menurutku perlu untuk di ceritakan.

Namun, ada saat dimana aku merasa menjadi pendengar yang begitu konyol. Disaat aku hharus mendengarkan curhatan sahabat-sahabatku tentang percintaan mereka, sementara,, hey! Aku bahkan tak bisa mempertahankan hubungan yang kujalani sendiri.
Yaik! Menyebalkan mengetahuinya,, hmm,, atau lebih tepatnya, menyebalkan menyadarinya. Tapi disisi lain, hal itu secara bersamaan juga bisa membuatku tertawa. Jika bukan karna kegagalan itu, aku tak akan belajar apapaun. Aku tak akan pernah berada di titik ini. Menjadi aku yang sekarang.

Sedikit menjemput hal-hal yang membuatku belajar. Ini tentang kita. Hmm,, Aku, Beruang Madu, Kambing Bodoh, Nyai Muram dan Nona Gembul.

Meski tak ada penjelasan ilmiah yang bisa membantuku memahami tentang karma, lingkunganku yang serba komplit dengan beragam karakteristik dan permasahan manusianya telah membuatku meyakini betul bahwa KARMA, adalah sesuatu yang nyata dan benar-benar terjadi.

Terkadang mmbuatku tersenyum kecut menyadari bahwa hal-hal nyeleneh yang sempat kulakukan juga terkadang berbalik dilakukan orang padaku. Yah.. karma ?

Aku sempat menjadi korban keangkuhan Nyai Muram ketika dia yang begitu konservatif, berhasil membuat Sang Beruang Madu keluar dari kandang emasku dan berlari menuju kandang kayu yang begitu sederhana, membuat Beruang madu mengikutinya kemanapun dia pergi. Seolah-olah Beruang Madu yang kujaga selama dua tahun tak suka lagi menerima dekapanku atau mendengar ocehan-ocehanku. Meski tak munafik, terkadang Sang Beruang Madu juga menyungut-nungut manja ketika Nyai Muram menghampiri.

Nyai muram tampak begitu angkuh menertawaiku, ketika dari jauh melihat Beruang Madu hilir mudik tak tentu, namun tak menuju ke arahku. Ketika Sang Beruang Madu mengendus-ngendus manja disekelilingnya. Bahkan tak jarang Nyai Muram berlalu dihadapanku sambil mengunyah permen karet seolah-olah dia tahu cara meniupnya.

Sempat kudengar cekikikannya tentang betapa bahagianya dia melihatku tertunduk layu ketika tak lagi bisa menyentuh Sang Beruang Madu, sebuah pengakuan bahwa semua yang dilakukanya hanya untuk menyakitiku. Kau jahat Nyai Muram.....

Sesekali tampak dia berusha menyunggingkan senyum kemenangannya di depanku. Yaaah...ada sepaket cerita lagi yang kuterima dari teman-teman yang sempat mendengar celotehan bangga Nyai Muram.

Waktu berlalu.. Bulan berganti,, tahun berganti,, dan Nyai Muram tetaplah akan seperti namanya.....

Kesenangan bukanlah milik mereka yang berhati busuk.
Kebanggaan bukanlah sahabat mereka yang berniat buruk.
Ketulusan  bukanlah untuk mereka yang bermoral ambruk.

Nyai Muram yang terlihat begitu lugu, telah menipu semua orang. Dia tak sepolos rupanya. Dia tak selugu kelihatannya.
Perlahan muram pun menjadi pengisi seluruh hidupnya...
Saat aku tak lagi menginginkan Sang Beruang Madu kembali ke kandang emasku, saat aku telah memiliki Kambing Bodohku pun, Nyai Muram masih bermuram durja.
Entah kemana perginya senyum bangga dan angkuh yang sempat dia sunggingkan padaku. Tak ada lagi cekikikan penuh hinaan yang sempat kudengar dikala sore menyapa wajahku.

Oh Nyai Muram,,, 
Andai kau tak sejahat itu padaku... mungkin karma tak akan mengunjungimu....
Mungkin ‘diabaikan’ tak menjadi nama tengahmu...
Ironinya lagi, akulah yang menjadi saksi untuk setiap kebohongan Sang Beruang Madu yang membuatmu bermuram durja itu.
Aku mengetahui setiap detailnya. Melihat setiap penyebab durjamu. Sesekali aku berusaha mengingatkan Sang Beruang Madu atas keberadaanmu, tapi Nyai,,, rupanya Tuan Beruang tak menyukai kandang kayu..
Dan celakanya,, akupun menyadari bahwa dia tak pantas ada di kandang emasku...

Meski banyak yang melihatmu dengan miris, seolah mereka mengamini apa yang kau alami sekarang. Percayalah, aku masih menaruh rasa iba padamu Nyai,,, jujur, aku merasa kau tidak seharusnya mengalami semua itu.
Semoga kau, aku dan mereka, mengambil hikmah dari semua yang telah kita hadapi.
Amiin



Sepertinya, pilihanku selalu menarik bagi sebagian orang di luar sana. Ketika aku tak lagi menyediakan kandang emas untuk Sang Beruang Madu. Aku telah menyiapkan ruangan yang empuk untuk Kambing Bodohku. Jangan salah,,, kambing ini bukanlah kambing kampung dengan warna hitam yang pekat. Dia berbeda. Salah satu yang terbaik dari kambing yang pernah kulihat.

Entah karena Kambing Bodohku telah terbiasa berada di tempat yang empuk dan nyaman, membuatnya tak lagi bisa bila jauh dari pengawasanku. Maka satu ketika, saat aku sedang tak bisa menjaganya, dia menganggap Nona Gembul adalah tempat nyaman yang selama ini ditinggalinya.
Yaah,,, matanya mungkin tertutup kerikil atau kotorannya sendiri sampai-sampai dia tak bisa membedakan apa yang dirasa dan dilihatnya.
Nona Gembul yang serakah juga ternyata bahkan lebih jahat dibanding Nyai Muram. Dia menyihir Kambing Bodohku dan mengiming-imingi tempat yang jauh lebih bagus dari yang kuberikan.

Tak jarang Nona Gembul mencoba membuat pencitraan yang bagus tentang dirinya dengan menjelekkan tempat yang dahulu ditinggali Sang Kambing Bodohku. Ah,,, memang begitulah cara yang dilakukan orang yang berhati licik, tak punya apa-apa untuk ditonjolkan, namun lebih memilih menjelekkan orang lain.

Aku awalnnya sempat berpikiran bahwa hidup tidak adil begitu mendengar kabar bahwa Kambing Bodohku menyukai tempat barunya. Namun,,, terkadang apa yang terlihat tak sama dengan yang sebenarnya terjadi. Perlahan Karma mulai mendekati mereka. Ah,,, aku seperti kotak informasi yang menerima informasi dari orang-orang di kiri dan kananku.
Meski berkali-kali ku katakan bahwa aku tak ingin mendengar apapun, tapi mereka tak henti melaporkan ini dan itu yang berhubungan dengan Kambing Bodohku. Huft,, Like I Care,,,
Aku bahkan tak sempat mengingatnya..
Namun saat ada laporan ini dan itu, bagaimana mungkin tak mngingatnya..

Berkali-kali telingaku mendapat celaaan untuk Nona Gembul yang mulai terkikis lara. Oh.. bisakah hariku berjalan tanpa mendengar apapun dari mereka??

Apapun itu,, yang akan terjadi pada mereka,, Nyai Muram, Beruang Madu, Nona Gembul dan Kambing Bodohku, sepertinya bukanlah sesuatu yangharus kutahui.
Rasanya hidupku jauh lebih baik tanpa mengetahui apapun tentang mereka.

Mendengar pengakuan Kambing Bodoh,, bahwa dia bermain di satu taman dengan Beruang Madu membuatku sedikit geli. Apa yang kalian lakukan? Membuatku tertawa kecut. Membayangkan kalian berlari-lari bersama. Hey!

Yaah... sekedar sentilan untukku dan untuk kita semua. Berpikirlah berkali-kali sebelum melakukan sesuatu. Sebelum berniat menjahati dan menyakiti orang lain. Sebelum menentukan pilihan atau mengambil keputusan. Gunakan logika dan nurani. Dan bertanyalah lagi pada Sang Penguasa Hati sebelum dan mohon petunjukNya.

Semoga semua kesalahan kita diampuni dan diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Semoga kita dipertemukan dalam keadaan yang lebih baik,, Amiin ^_^




Bandung, 13/07/12